Dia bernama Khalid bin Walid bin Mughirah bin Abdullah bin Umair bin Makhzum. Ia dijuluki saifullah (pedang Allah). Ia seorang pahlawan Islam, panglima para mujahid, dan pemimpin pasukan yang selalu dibantu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia tak pernah terkalahkan baik di masa jahiliah maupun setelah Islam. Ia memiliki ide-ide yang cemerlang, keperkasaan yang tiada tara, dan taktik yang jitu. Ia termasuk salah seorang juru tulis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Gelarnya/kun-yahnya adalah Abu Sulaiman.
Ø Ayahnya
Ayahnya bergelar Abdu
Syams. Ia salah seorang hakim di kalangan bangsa Arab pada masa jahiliah. Ia
juga salah seorang pemimpin terkemuka suku Quraisy. Kekayaan yang dimilikinya
sangat banyak, sampai seluruh suku Quraisy mesti berkumpul untuk membungkus
Ka’bah dengan kiswah sementara ia cukup sendirian saja melakukannya. Ia
termasuk orang yang mengharamkan khamr di masa jahiliah. Ia sempat
bertemu dengan masa Islam pada saat berusia sangat lanjut, akan tetapi ia
memusuhi Islam dan menentang dakwahnya, sampai ia meninggal tiga bulan setelah
hijrah.
Ø Ibunya
Ibunya bernama Ashma’
atau yang dikenal dengan Lubabah kecil; putri al-Harits bin Harb al-Hilaliah.
Ia adalah saudari Lubabah besar; istri Abbas ibn Abdul Muththalib. Keduanya
merupakan saudari Maimunah binti al-Harits; istri Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam.
Khalid bin Walid
adalah seorang penunggang kuda yang tangguh dan pahlawan suku Quraisy. Ia
terjun dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandak di barisan kaum
musyrikin. Kemudian, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan
kebaikan untuknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan rasa cinta Islam
ke dalam hatinya.
Khalid bin Walid
telah mengikuti berbagai peperangan. Tak sejengkal pun bagian tubuhnya
melainkan terdapat “cap” syuhada (bekas besetan pedang atau tusukan tombak). Ia
pernah berkata, “Malam di kala aku dihadiahi seorang pengantin atau aku diberi
kabar gembira dengan kelahiran anakku tidaklah lebih aku sukai daripada malam
yang sangat dingin dalam barisan pasukan kaum Muhajirin di saat paginya aku
akan berhadapan dengan musuh.”
Ø Walid Mengajaknya Masuk Islam
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam masuk ke kota Mekah dalam rangkaian umrah qadha. Ikut
bersama Rasulullah, al-Walid bin Walid –saudara Khalid bin Walid– yang telah
lebih dahulu masuk Islam daripada Khalid.
Walid mencari-cari
saudaranya, Khalid, tetapi tidak menemukannya. Ia pun menulis sepucuk surat
kepada saudaranya.
“Bismillahirrahmanirrahim.
Amma ba’d. Sesungguhnya aku tak menemukan sesuatu yang lebih mengherankan
daripada jauhnya pikiranmu dari Islam. Engkau seorang yang cerdas. Tak seorang
pun yang tidak mengenal agama seperti Islam. Aku pernah ditanya suatu kali oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dirimu. Beliau
bertanya,
‘Mana Khalid?’
Aku menjawab, ‘Semoga
Allah memberinya hidayah.’
Beliau bersabda lagi,
‘Orang seperti
Khalid tidak mengenai Islam? Andaikan ia gunakan kehebatan dan ketangguhannya
–yang selama ini ia gunakan untuk yang lain– bersama kaum muslimin, tentu akan
lebih baik baginya.’
Bergegaslah wahai
saudaraku untuk menjemput peluang-peluang kebaikan yang sempat luput darimu.
Ø Kisah Islamnya Khalid bin Walid
Khalid bin Walid menerima surat dari
saudaranya. Surat itu dibacanya dengan seksama. Ia sangat gembira mengetahui
bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya tentang
dirinya. Hal itu semakin mendorongnya untuk masuk Islam. Akhirnya Khalid
mengarahkan jiwa dan nuraninya pada agama baru yang setiap hari benderanya
semakin naik dan berkibar. Cahaya keyakinan pun mulai berkilau di hatinya yang
suci. Ia berkata dalam hatinya, “Demi Allah, sungguh jalan inilah yang kurus.
Sesungguhnya dia (Muhammad) memang benar-benar seorang rasul. Sampai kapan?
Demi Allah aku harus segera menemuinya untuk mengutarakan keislamanmu.”
Pada malam itu Khalid
bermimpi seperti berada di sebuah daerah sempit dan gersang. Tak ada tanaman
dan tak ada air. Kemudian ia pergi menuju daerah yang hijau dan luas. Setelah
bangun, Khalid berkata dalam hati, “sungguh ini sebuah mimpi yang baik.”
Khalid keluar dari
rumahnya. Ia sudah bertekad untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Mimpi yang ia alami semalam terus melekat dalam pikirannya dan
seolah-olah berada di depan kedua matanya. Ia mencari seseorang yang bisa
menemaninya menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di tengah jalan ia
bertemu dengan Shafwan bin Umayyah. Khalid berkata pada Shafwan, “Wahai Abu
Wahb, tidakkah engkau perhatikan kondisi kita? Kita ibarat gigi geraham sementara
Muhammad telah menguasai bangsa Arab dan non-Arab. Kalau kita datang menemui
Muhammad lalu kita ikuti langkahnya, niscaya kemuliaan Muhammad juga kemuliaan
kita.”
Shafwan bin Umayyah
sangat enggan menerima ajakan Khalid. Ia berkata, “Andaikan tak ada lagi yang
tersisa selain diriku sendiri, sungguh aku tak akan pernah mengikutinya
selama-lamanya.”
Akhirnya Khalid bin
Walid meninggalkan Shafwan bin Umayyah. Ia berkata dalam hati, “Orang ini,
saudara dan bapaknya terbunuh di Perang Badar.”
Kemudian Khalid
berjumpa dengan Ikrimah bin Abu Jahal. Khalid berkata kepada Ikrimah seperti
yang dikatakannya kepada Shafwan bin Umayyah. Jawaban yang diberikan Ikrimah
juga sama dengan jawaban Shafwan bin Umayyah.
Lalu Khalid kembali
ke rumahnya dan mempersiapkan kudanya. Ia mulai melangkah. Tiba-tiba ia bertemu
dengan Utsman bin Thalhah yang merupakan sahabat dekatnya. Ia menyampaikan
rencananya untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ternyata Utsman menerima ajakannya. Akhirnya keduanya pergi dengan tujuan
yang sama. Di jalan mereka bertemu dengan Amru bin Ash. Amru berkata pada
keduanya, “Marhaban.”
“Marhaban bika,”
balas keduanya.
“Mau ke mana kalian?”
tanya Amru.
“Apa yang menyebabkan
engkau keluar di waktu begini?” keduanya balik bertanya.
“Kalau kalian, apa
yang menyebabkan kalian keluar?” Amru balas bertanya.
“Untuk masuk Islam
dan mengikuti Muhammad,” jawab Khalid dan Utsman serentak.
“Itulah yang membuat
aku datang ke sini,” timpal Amru sambil tersenyum.
Mereka berangkat
sampai tiba di Madinah. Di jalan, sebelum bertemu Rasulullah, Khalid bertemu
dengan saudaranya; al-Walid. Al-Walid berkata, “Cepatlah. Sesungguhnya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui kedatanganmu
dan beliau sangat gembira dengan kedatanganmu. Beliau sedang menunggu kalian.”
Mereka memeprcepat
langkah dan segera masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Khalid lebih dulu masuk dan ia segera menyampaikan salam pada Rasulullah.
Rasulullah membalas salamnya dengan wajah berseri.
Khalid segera
berucap, “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa
engkau adalah utusan Allah.”
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Mari ke sini!”
Ketika Khalid bin
Walid sudah mendekat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Segala puji bagi
Allah yang telah menunjukimu. Aku memang sudah melihat kecerdasan dalam dirimu
dan aku berharap semoga kecerdasan itu membawamu pada kebaikan.”
Setelah membaiat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khalid berkata, “Wahai Rasulullah,
aku telah banyak berada pada posisi yang menentang kebenaran, maka berdoalah
kepada Allah untuk mengampuniku.”
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Islam akan
menghapus segala dosa yang telah berlalu.”
Khalid melanjutkan,
“Wahai Rasulullah, doakanlah aku!”
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ya Allah,
ampunkanlah Khalid atas segala perbuatannya yang menghalangi manusia dari
jalan-Mu.”
Kemudian Utsman bin
Thalhah dan Amru ibnul Ash pun maju dan membaiat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Sejak hari itu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak pernah memberi sesuatu pun
kepada para sahabatnya lebih banyak dari yang diberikannya kepada Khalid bin
Walid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada
sahabat-sahabat yang lain,
“Jangan sakiti
Khalid karena sesungguhnya ia adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang
Dia hunuskan pada orang-orang kafir.”
Abu Bakar ash-Shiddiq
Menafsirkan Mimpi Khalid
Suatu kali Khalid bin
Walid berjumpa dengan Abu Bakar ash-Shiddiq. Ia berkata dalam hati, “Aku akan
sampaikan mimpi yang pernah kualami kepada Abu Bakar.”
Setelah Khalid
menceritakan kepada Abu Bakar mimpi yang ia alami, Abu Bakar berkata,
“Sesungguhnya daerah hijau yang luas itu adalah jalan keluar yang menjadi
tempat Allah menunjukimu pada Islam dan sesungguhnya daerah yang sempit itu
adalah masa yang engkau lalui dalam kemusyrikan.”
Pembebasan Mekah
Khalid bin Walid
telah masuk Islam. Ia membelakangi tuhan-tuhan nenek moyangnya dan seluruh
bentuk pujaan kaumnya. Bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan kaum muslimin lainnya ia menyongsong dunia baru. Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah menakdirkannya berada di bawah panji Rasulullah dan kalimat
tauhid.
Pada saat pembebasan
Mekah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk
masuk ke Mekah dari arah atas. Khalid dan orang-orang bersamanya masuk ke Mekah
dari tempat yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ternyata ia dihadang oleh beberapa orang kaum Quraisy. Di antara meraka ada
Shafwan bin Umayyah, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Suhail bin Amru. Mereka
mengahalangi Khalid untuk masuk dan bahkan menghunus senjata serta melemparinya
dengan ketapel. Khalid mengobarkan semangat sahabat-sahabatnya dan memerangi
kaum Quraisy tersebut. Sebanyak 24 orang kaum Quraisy menemui ajal sementara 2
orang kaum muslimin menemui syahadah. Akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala
menyempurnakan pembebasan Mekah untuk Rasul-Nya dan segenap kaum muslimin.
Diutus untuk
Menghancurkan Uzza
Patung Uzza terletak
di daerah Nakhlah. Suku Quraisy, Kinanah, dan Mudhar sangat mengagungkannya.
Orang-orang yang memelihara dan yang menjaganya adalah Bani Syaiban (yang
berasal) dari Bani Sulaim dan merupakan sekutu Bani Hasyim.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mengutus Khalid bin Walid untuk menghancurkan Uzza.
Ketika penjaga patung Uzza yang berasal dari Bani Sulaim mendengar bahwa Khalid
bin Walid sedang menuju ke sana untuk menghancurkannya, ia segera
menggantungkan pedangnya di pundak patung Uzza tersebut. Kemudian ia naik ke
atas bukit yang terletak di dekat sana lalu berkata,
“Wahai Uzza, siapkan
dirimu, tak ada yang lain selainmu yang mampu menghadang Khalid yang telah
siaga. Siapkan dirimu, karena jika engkau tidak membunuh Khalid, niscaya engkau
akan ditimpa dosa yang dekat dan tak berdaya.”
Setelah Khalid sampai
di sana, ia segera menghancurkan Uzza. Setelah kembali, Rasulullah bertanya
kepadanya,
“Apa yang engkau
lihat?”
Khalid menjawab, “Aku
tidak melihat apa-apa.”
Rasulullah
menyuruhnya untuk kembali ke sana. Ketika Khalid sampai ke tempat itu, dari
dalam ruangan tempat patung Uzza dihancurkan keluarlah seorang wanita hitam
yang menguraikan rambutnya sambil menaburkan tanah ke kepala dan mukanya.
Khalid segera mengayunkan pedangnya dan berakhirlah hidup wanita itu. Khalid
berkata,
“Wahai Uzza engkau
dikufuri dan dirimu tidak suci. Aku lihat Allah telah menghinakanmu.”
Kemudian Khalid
menghancurkan rumah (ruangan) tempat patung itu lalu ia ambil seluruh harta
yang ada di sana. Setelah itu ia kembali. Ia ceritakan kepada Rasulullah semua
hal yang terjadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Itulah Uzza dan ia
tak akan pernah disembah lagi untuk selama-lamanya.”
Ø Perang Mu’tah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengirim sebuah pasukan yang berjumlah sebanyak 3000 prajurit ke daerah Mu’tah
untuk membalas dendam terhadap kematian Harits bin Umair al-Azdi radhiallahu ‘anhu yang
diutus oleh rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam untuk membawa suratnya kepada Raja Bushra guna
menyerunya masuk Islam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih Zaid bin Haritsah untuk memimpin komando pasukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada mereka,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih Zaid bin Haritsah untuk memimpin komando pasukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada mereka,
“Zaid bin
Haritsah yang akan menjadi komandan. Jika ia terbunuh maka komando pasukan
diambil oleh Ja’far bin Abu Thalib. Jika Ja’far juga terbunuh maka pimpinan
diambil oleh Abdullah bin Rawahah. Jika Abdullah bin Rawahah juga terbunuh maka
silakan kaum muslimin memilih di antara yang mereka ridhai untuk menjadi
pimpinan.”
Berita tentang
bergeraknya pasukan muslimin sampai ke telinga musuh. Heraklius, penguasa
Romawi, segera mengumpulkan pasukan yang berjumlah lebih dari 100.000 prajurit
untuk mempertahankan wilayah Ghasasinah. Turut bergabung ke dalam pasukan
tersebut 100.000 orang dari Arab Badui yang musyrik.
Kadua pasukan
bertemu di daerah Mu’tah. Peperangan sengit pun mulai berkecamuk. Sebanyak
3.000 orang menghadapi serangan 200.000 orang.
Kaum muslimin
terjun ke dalam peperangan yang tak seimbang itu tanpa rasa gentar. Kaum
muslimin tidak berperang dengan mengandalkan jumlah, kekuatan, atau banyak
pasukan. Mereka berperang dengan agama yang Allah telah muliakan mereka
dengannya. Mereka menyongsong pintu-pintu syahadah dengan penuh suka cita dan
keberanian yang menakjubkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala
memberi tahu Rasul-Nya semua hal yang terjadi pada para sahabat. Beliau naik ke
mimbar. Setelah memuji dan menyanjung Allah Subhanahu
wa Ta’ala, beliau bersabda kepada para sahabat yang hadir,
“Sesungguhnya saudara-saudara
kalian telah berhadapan dengan musuh. Pertama kali panji dipegang oleh Zaid bin
Haritsah. Ia berperang dengan gagah berani sampai akhirnya syahid. Kemudian
panji diambil oleh Ja’far bin Abu Thalib. Ia berperang sampai akhirnya juga
syahid. Setelah itu panji diambil oleh Abdullah bin Rawahah. Lalu ia berperang
sampai akhirnya jatuh syahid. Terakhir, panji diambil oleh pedang di antara
pedang-pedang Allah; Khalid bin Walid, maka Allah menenangkan kaum muslimin di
bawah komandonya.”
Setelah syahidnya
tiga orang komandan kaum muslimin tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menengadahkan wajahnya dan berdoa,
“Ya Allah, dia adalah pedang di
antara pedang-pedang-Mu maka menangkanlah ia.”
Sejak hari itu
Khalid bin Walid dijuluki dengan saifullah
(pedang Allah).
Ø Kejeniusan Khalid bin Walid
Kejeniusan Khalid bin Walid
secara militer tampak sangat jelas di Perang Mu’tah. Setelah gugurnya tiga
orang komandan sebelumnya, mulanya panji diambil oleh Tsabit bin Aqram radhiallahu ‘anhu. Panji
itu dipegangnya dengan tangan kanannya dan diangkatnya tinggi-tinggi di
tengah-tengah pasukan muslimin agar barisan kaum muslimin tidak kocar-kacir.
Belum beberapa saat Tsabit bin Aqram memegang panji itu, ia segera berlari
menuju Khalid bin Walid dan berkata kepadanya, “Ambillah panji ini, wahai Abu
Sulaiman.”
Dengan penuh adab
dan rendah hati Khalid berkata, “Tidak… tidak… aku tak akan memegang panji itu.
Engkau yang lebih berhak memegangnya karena engkau lebih tua dan ikut dalam
Perang Badar.”
Tsabit bin Aqram
berkata, “Ambillah, karena engkau yang lebih berpengalaman dariku dalam
berperang. Demi Allah, aku tidak mengambil panji ini kecuali untuk
menyerahkannya kepadamu.”
Kemudian Tsabit
bin Aqram berteriak kepada seluruh pasukan, “Apakah kalian ridha dengan
kepemimpinan Khalid?”
Mereka serentak
menjawab, “Ya.”
Khalid segera
mengambil panji dengan tangan kanannya dan membawanya ke depan barisan. Ia
berperang dengan sangat berani. Tidak pernah terlihat orang seberani dirinya.
Sampai ada sembilan pedangnya patah di tangan dan tidak ada satu pun yang tidak
terkena luka kecuali bagian kanannya. Dengan pasukan yang terbatas itu,
sepanjang siang di hari pertama peperangan ia berhasil bertahan di hadapan
lautan pasukan Romawi yang sangat besar.
Khalid bin Walid
merasa perlu untuk melakukan semacam tipu muslihat perang guna menimbulkan rasa
takut dan gentar di hati pasukan Romawi dan kaum musyrikin lainnya. Sehingga,
ia bisa pulang bersama pasukan muslimin tanpa dikejar oleh pasukan Romawi dan
kaum musyrikin. Ia sangat menyadari bahwa untuk bisa lolos dari cengkeraman
mereka sangatlah sulit. Seandainya pasukan muslimin teriihat lari, musuh akan
mengejar. Saifullah
mulai memandangi medan perang yang luas itu dengan kedua matanya yang tajam
seperti mata elang. Ia berpikir keras mencari cara melepaskan pasukan muslimin
dari krisis yang ada di hadapannya.
Di sini Khalid
menampakkan kejeniusan, kemahiran, dan kecerdasannya dalam berinteraksi dengan
kondisi yang sangat sulit. Pada pagi hari kedua, Khalid mengubah posisi pasukan
dan menyusun strategi dari awal. Pasukan yang semula di barisan depan
diletakkannya di barisan belakang dan pasukan di sayap kanan ditempatkannya di
sayap kiri, dan begitu juga sebaliknya. Ketika pasukan musuh melihat hal itu,
mereka seakan tak mengenali pasukan ‘baru’ ini. Mereka berkata sesamanya,
“Bantuan telah datang pada mereka.” Akhirnya mereka mulai merasa gentar.
Setelah kedua
pasukan bertemu dan saling menguji kekuatan lawan beberapa saat, Khalid mulai
mundur bersama beberapa pasukan sedikit demi sedikit dengan tetap menjaga
komposisi barisan pasukan. Pasukan Romawi dan kaum musyrikin tidak berani
mengikuti kaum muslimin karena mereka mengira bahwa kaum muslimin sedang menipu
mereka dan berusaha melakukan muslihat untuk menjebak mereka ke padang pasir
tak bertepi.
Begitulah.
Akhirnya pasukan musuh kembali ke negeri mereka dan tidak berpikir untuk
mengejar pasukan muslimin. Di bawah komando Khalid bin Walid kaum muslimin
berhasil meninggalkan medan perang dalam keadaan selamat sampai kembali ke
Madinah.
Ø Memimpin Sariyyah ke Ukaidir Daumat Jandal
Pada bulan Rajab
tahun 9 Hijriah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mengirim Khalid bin Walid memimpin 420 prajurit
menemui Ukaidir bin Abdul Malik dari suku Kindah (sebuah suku di Yaman). Ia
adalah seorang Raja Nasrani di daerah Daumat Jandal. Sebelum bergerak,
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam telah memberi berita baik kepada Khalid bahwa ia
akan menyerang si Raja yang dalam keadaan lengah dan Khalid akan bisa
menangkapnya. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya engkau akan
mendapatinya sedang memburu sapi.”
Khalid berangkat
memimpin sariyah-nya menuju Daumat Jandal sampai ia tiba di perbatasan daerah
itu. Ia sudah bisa melihat dengan jelas keadaan di dalam daerah tersebut.
Ukaidir bin Abdul
Malik adalah seseorang yang sangat gemar berburu sapi. Pada malam itu, ketika
ia berada di beranda istannya bersama istrinya, tiba-tiba ada beberapa ekor
sapi yang mendorong pintu benteng dengan tanduknya. Istrinya memandang dari
atas pintu benteng dan menyaksikan ulah sapi-sapi tersebut.
Dengan penuh
heran, istrinya bertanya, “Apakah engkau pernah melihat hal seperti ini
sebelumnya?”
Ukaidir bin Abdul
Malik menjawab, “Belum, demi Tuhan.”
“Lalu siapa yang
membiarkan sapi-sapi tersebut lepas?” tanya istrinya lagi.
“Tak ada seorang
pun,” jawab Ukaidir,
Ukaidir bin Abdul
Malik memerintahkan pembantunya untuk menyiapkan kudanya. Kemudian ia bersama
beberapa orang keluarganya –termasuk saudara Hassan- keluar untuk memburu
sapi-sapi itu.
Khalid bin Walid
memanfaatkan kesempatan tersebut. Ia segera mengejar mereka. Akhirnya ia dapat
menawan Ukaidir bin Abdul Malik. Sementara saudaranya Hassan tewas.
Ukaidir bin Malik
mengenakan jubah dari sutra yang ditenun dengan emas. Para sahabat sangat
takjub melihat jubah tersebut. Akan tetapi Khalid adalah seseorang yang tidak
tertarik pada kesenangan dan perhiasan duniawi. Sedikit pun ia tidak bergerak
untuk menyimpan jubah mewah tersebut. Ia bahkan langsung mengirim jubah itu ke
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam sebelum ia sampai ke Madinah.
Setelah Khalid
bin Walid datang membawa Ukaidir bin Abdul Malik menghadap Rasulullah,
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menjamin keselamatannya dan mengadakan perjanjian
damai dengannya, dengan syarat ia mesti membayar jizyah. Kemudian Rasulullah
membebaskannya dan membiarkannya kembali ke daerahnya.
Ø Memerangi Orang-Orang Murtad
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah berpulang ke haribaan Tuhannya setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menenteramkan
jiwanya, menyempurnakan nikmat-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, dan menyempurnakan
agama yang telah Dia ridhai sebagai konsep hidup untuk seluruh makhluk-Nya.
Akan tetapi, manusia terbagi dalam beberapa golongan: ada mukmin yang
berkeyakinan sempurna, ada mukmin yang imannya masih mudah goyah, ada yang
kafir selalu menentang, dan ada munafik yang terbukti kemunafikannya – pagi
bersama golongan ini tapi sore bersama golongan yang lain. Musibah besar itu
datang secara tiba-tiba kepada kaum muslimin dengan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Seperti angin kencang, berita yang sangat menyedihkan itu tersebar ke seluruh
pelosok Jazirah Arab.
Di sini
kemunafikan menampakkan wujudnya. Yahudi dan Nasrani pun mulai melihat-lihat
peluang. Ahli kebohongan, baik laki-laki maupun perempuan mulai menyebarkan
berita-berita dusta. Kelompok-kelompok kaum murtad dan orang-orang yang enggan
membayar zakat mulai mempersiapkan diri untuk melancarkan konspirasi berbahaya,
Abu Bakar menerima tanggung jawab kekhilafan. Ia bersikap sangat tegas dan
menolak segala bentuk ‘basa-basi’ menghadapi kaum munafik dan murtad.
Abu Bakar
ash-Shiddiq menyiapkan pasukan muslimin dan memimpin pasukan secara langsung
menuju suku-suku yang murtad dari Bani Abs, Bani Murrah, dan Dzubyah. Ia
menolak setiap usaha sahabat-sahabat terkemuka untuk menghalangi niatnya atau
menyerahkan komando pasukan kepada sahabat yang lain sementara ia tetap tinggal
di Madinah dalam kondisi yang sulit itu.
Perang pun
berlangsung dengan sengit. Dengan karunia Allah dan keberanian Abu Bakar, kaum
muslimin memperoleh kemenangan gemilang dalam perang tersebut. Belum berapa
lama pasukan muslimin beristirahat di Madinah, Khalifah kembali memanggil
mereka untuk bersiap menghadapi perang kedua.
Berita tentang
pemberontakan kaum murtad dari waktu ke waktu semakin mengkhawatirkan. Akhirnya
ash-Shiddiq kembali berniat untuk memimpin pasukan kedua ini secara langsung.
Para sahabat terkemuka sudah tidak bisa menahan diri lagi. Mereka telah sepakat
agar Khalifah tetap berada di Madinah.
Melihat
kesepakatan para sahabat tersebut, khalifah akhirnya bersedia untuk tetap
berada di Madinah. Kemudian ia menoleh pada Khalid bin Walid, sang pedang
Allah, pahlawan Islam, panglima jenius, seseorang yang tak pernah absen dari
berbagai peperangan dan sangat terlatih serta berpengalaman di arena jihad.
Khalifah memanggilnya dan ia segera mengabulkan panggilan itu. Khalifah
menyerahkan komando pasukan kepadanya dan ia taat menerima amanah tersebut.
Setelah itu
Khalifah mengumumkan hal tersebut kepada seluruh pasukan. Ia berkata,
“Berangkatlah dengan nama Allah dan diiringi keberkahan-Nya. Pemimpin kalian
adalah Khalid bin Walid, maka dengarlah arahannya dan patuhlah kepadanya.”
Setelah itu Abu
Bakar minta bicara empat mata dengan Khalid. Abu Bakar berkata, “Aku pernah
mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hamba Allah dan saudara suatu kaum
yang paling baik adalah Khalid bin Walid. Khalid bin Walid adalah pedang di
antara pedang-pedang Allah yang Allah hunuskan kepada kaum kafir dan
munafikin’.”
Kemudian ia
berwasiat kepada Khalid, “Wahai Khalid, engkau harus senantiasa bertakwa kepada
Allah dan mengutamakan Allah dari apa saja, serta berjihad di jalan-Nya.
Sebagaimana engkau lihat, aku telah mengangkatmu sebagai pemimpin terhadap kaum
muhajirin dan Anshar yang termasuk ahli Badar (orang-orang yang ikut ambil
bagian dalam Perang Badar).”
Ø Perang Yamamah
Khalid bin Walid
membawa pasukannya dari satu peperangan ke peperangan yang lain dan dari satu
kemenangan pada kemenangan yang lain sampai pada peperangan yang sangat
menentukan, yaitu Perang Yamamah. Di Yamamah, Bani Hanifah beserta suku-suku
lain yang bergabung dengan mereka telah mempersiapkan pasukan murtad yang
paling berbahaya yang dikomandoi oleh Musailamah al-Kadzdzab. Baru saja
Musailamah mendengar bahwa Khalid bin Walid bersama pasukannya sedang menuju
padanya, ia segera mempersiapkan barisan pasukannya dan menjadikannya
benar-benar menjadi bahaya yang hakiki serta musuh yang menakutkan bagi
muslimin.
Khalid bin Walid
berhenti di daerah berpasir di perbatasan Yamamah. Musailamah datang dengan
penuh congkak dan sombong. Jumlah pasukannya sangat banyak dan panjang
seolah-olah barisan itu tak berujung. Khalid menyerahkan bendera dan panji pada
masing-masing komando sayap pasukan.
Kedua pasukan pun
bertemu. Dimulailah peperangan yang sangat menegangkan. Berturut-turut syuhada
muslimin berguguran. Khalid menyadari keunggulan musuh dari segi jumlah. Akan
tetapi dengan pandangan yang dalam dan cerdas, ia menangkap satu titik
kelemahan dalam pasukannya, yaitu kebanyakan mereka adalah Arab Badui yang baru
masuk Islam. Kemudian Khalid menyeru, “Wahai kaum Anshar…” kaum Anshar datang
kepadanya satu demi satu.
Kemudian ia menyeru
lagi, “Wahai kaum Muhajirin…” Kaum Muhajirin pun berkumpul di sekitarnya. Lalu
ia ulang kembali formasi pasukannya di medan perang. Ia tempatkan pasukan dari
Arab Badui di bagian belakang. Kemudian ia menyeru, “Jagalah jarak dari yang
lain. Hari ini kita akan melihat ketangguhan masing-masing kelompok.”
Mereka mengambil
jarak satu sama lain. Kaum Muhajirin berada di bawah satu panji dan kaum Anshar
juga berada di bawah satu panji. Dalam hitungan beberapa menit saja arah
peperangan berubah. Sekarang pasukan Musailamah yang jatuh berguguran bagaikan
laron yang berjatuhan. Arena perang dipenuhi jasad pasukan Musailamah sampai
akhirnya ia sendiri binasa.
Bersambung insya
Allah…Semoga bermanfaat..Aamiin
Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.
Sultan Muhammad al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.
Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Muhammad kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!
Walaupun usianya baru seumur jagung, sang ayah, Sultan Murad II, mengamanati Sultan Muhammad memimpin suatu daerah dengan bimbingan para ulama. Hal itu dilakukan sang ayah agar anaknya cepat menyadari bahwa dia memiliki tanggung jawab yang besar di kemudian hari. Bimbingan para ulama diharapkan menjadi kompas yang mengarahkan pemikiran anaknya agar sejalan dengan pemahaman Islam yang benar.
Langkah pertama yang Sultan Muhammad lakukan untuk mewujudkan cita-citanya adalah melakukan kebijakan militer dan politik luar negeri yang strategis. Ia memperbarui perjanjian dan kesepakatan yang telah terjalin dengan negara-negara tetangga dan sekutu-sekutu militernya. Pengaturan ulang perjanjian tersebut bertujuan menghilangkan pengaruh Kerajaan Bizantium Romawi di wilayah-wilayah tetangga Utsmaniah baik secara politis maupun militer.
Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak mula. Sebelum musuh mencapai benteng mereka, Bizantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.
Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosporus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi. Sultan Muhammad melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.
Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak mengira Sultan Muhammad dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu kemustahilan menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi.
Peperangan
dahsyat pun terjadi, benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan
Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan
kematian. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum
muslimin. Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam gugur.
Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei 1453 M, Sultan al-Ghazi
Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal
dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel.
Saat memasuki Konstantinopel, Sultan Muhammad al-Fatih turun dari kudanya lalu sujud sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri Islam, lau akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul.
Selain itu, Sultan Muhammad al-Fatih juga memerintahkan untuk membangun masjid di makam sahabat yang mulia Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wafat saat menyerang Konstantinopel di zaman Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu.
Apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad tentu saja bertentangan dengan syariat, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Kekeliruan yang dilakukan oleh Sultan Muhammad tidak serta-merta membuat kita menafikan jasa-jasanya yang sangat besar. Semoga Allah mengampuni kesalahan dan kekhilafannya beliau rahimahullah.
Setelah itu rentetat penaklukkan strategis dilakukan oleh Sultan Muhammad al-Fatih; ia membawa pasukannya menkalukkan Balkan, Yunani, Rumania, Albania, Asia Kecil, dll. bahkan ia telah mempersiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di Italia, akan tetapi kematian telah menghalanginya untuk mewujudkan hal itu.
Sultan Muhammad juga membangun lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah Utsmani. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Muhammad II dan Jami’ Abu Ayyub al-Anshari.
Tidak ada keterangan yang bisa dijadikan sandaran kemana Sultan Muhammad II hendak membawa pasukannya. Ada yang mengatakan beliau hendak menuju Itali untuk menaklukkan Roma ada juga yang mengatakan menuju Prancis atau Spanyol.
Sebelum wafat, Muhammad al-Fatih mewasiatkan kepada putra dan penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan.
Semoga Allah membalas jasa-jasamu wahai Sultan Muhammad al-Fatih…
Sahabat inilah yang pertama-tama dijuluki sebagai pemimpin para pemimpin (Amirul Umara). Dialah orang yang dipegang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kanannya seraya bersabda mengenai dirinya,
“Sesungguhnya setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.“
Orang kepercayaan inilah yang disebut-sebut Al-Faruq radhiallahu ‘anhu pada saat akan menghembuskan nafas terakhirnya, “Seandainya Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu masih hidup, niscaya aku menunjuknya sebagai penggantiku. Jika Rabb-ku bertanya kepadaku tentang dia, maka aku jawab, ‘Aku telah menunjuk kepercayaan Allah dan kepercayaan Rasul-Nya sebagai penggantiku’.”
Ia masuk Islam lewat perantaraan Ash-Shiddiq di masa-masa awal Islam sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk Darul Arqam. Ia berhijrah ke Habasyah yang kedua. Kemudian kembali untuk berdiri di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salalm dalam Perang Badar. Ia mengikuti peperangan seluruhnya, kemudian melanjutkan berbagai peperangan bersama Ash-Shiddiq dan Al-Faruq radhiallahu ‘anhuma.
Sikap yang ditunjukkannya dalam perang Uhud menjelaskan kepada kita bahwa ia benar-benar kepercayaan umat ini, di mana ia tetap menebaskan pedangnya yang terpercaya kepada pasukan kaum paganis. Setiap kali situasi dan kondisi perang mengharuskannya jauh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia berperang sembari kedua matanya memperhatikan di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertempur.
Di salah satu putarannya dan peperangan telah mencapai puncaknya, Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu dikepung oleh segolongan kaum musyrikin. Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu kehilangan kesadarannya, ketika melihat anak panah meluncur dari tangan orang musyrik lalu mengenai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia menyerang orang-orang yang mengepungnya dengan pedangnya dan seolah-olah ia memegang seratus pedang, sehingga membuat mereka tercerai berai. Lantas ia berlari bak terbang menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia melihat darah beliau yang suci mengalir dari wajahnya, dan melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap darah itu dengan tangan kanannya seraya bersabda,
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu menerangkan kepada kita tentang fenomena ini lewat pernyataannya, “Pada saat perang Uhud, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkena lemparan sehingga dua bulatan besi menancap di dahinya, aku cepat-cepat menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara ada seseorang yang datang dari arah timur berlari kencang seperti terbang, maka aku katakan, ‘Ya Allah, jadikanlah itu sebagai ketaatan.’ Ketika kami sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata ia adalah Abu Ubaidah bin Jarrah yang telah datang lebih dulu daripadaku. Ia berkata, ‘Aku meminta kepadamu, dengan nama Allah, wahai Abu Bakar, biarkan aku mencabutnya dari wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Aku pun membiarkannya. Ubaidah mengambil dengan gigi serinya salah satu bulatan besi itu, lalu mencabutnya dan jatuh ke tanah, gigi serinya pun jatuh bersamanya. Kemudian ia mengambil sepotong besi lainnya dengan gigi serinya yang lain sampai jatuh. Sejak saat itu, Abu Ubaidah di tengah khalayak dijuluki dengan Atsram (yang terpecah giginya, atau jatuh dari akarnya).
Pada saat delegasi Najran dari Yaman datang untuk menyatakan keislaman mereka, dan meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mengutus bersama mereka orang yang mengajarkan kepada mereka Alquran, Sunnah dan Islam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada mereka,
Semua sahabat berharap bahwa dialah yang bakal dipilih oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata persaksian ini menjadi keberuntungannya.
Umar Al-Faruq radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku tidak menyukai suatu jabatan pun sebagaimana aku menyukainya pada saat itu, karena berharap akulah yang bakal memperolehnya. Aku pergi untuk shalat Zhuhur dengan berjalan kaki. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Zhuhur bersama kami, beliau mengucapkan salam, kemudian memandang ke kanan dan ke kiri. Aku menegakkan punggungku agar beliau melihatku. Tapi beliau terus mengarahkan pandangannya hingga melihat Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Kemudian beliau memanggilnya seraya bersabda,
Akhirnya, Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu pergi bersama mereka.
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu berjalan di bawah panji Islam. Sekali waktu ia bersama para pasukan biasa, dan pada kesempatan yang lain bersama para panglima. Sampai datanglah masa Umar radhiallahu ‘anhu, ia menjabat sebagai panglima pasukan Islam di salah satu peperangan besar di Syam. Ia mendapatkan kemenangan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam peperangan ini, hingga ia menjadi hakim dan gubernur negeri Syam, dan perintahnya ditaati.
Amirul Mu’minin Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mengunjungi Syam, dan bertanya kepada orang-orang yang menyambutnya, “Di manakah saudaraku?” Mereka bertanya, “Siapa?” Ia menjawab, “Abu Ubaidah bin al-Jarrah.” Ketika Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu datang, Umar memeluknya. Kemudian Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu membawa Umar radhiallahu ‘anhu ke rumahnya. Di dalam rumah tersebut, Umar tidak melihat sedikit pun perkakas rumah tangga, kecuali pedang, perisai dan untanya. Umar radhiallahu ‘anhu bertanya kepadanya sembari tersenyum, “Mengapa engkau tidak memiliki sesuatu untuk dirimu sebagaimana dilakukan orang lain?” Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu menjawab, “Wahai Amirul Mu’minin, inilah yang bisa mengantarkanku ke akhirat.”
Pada suatu hari, pada saat Al-Faruq Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berada di Madinah, seorang informan datang kepadanya untuk mengabarkan bahwa Abu Ubaidah telah meninggal dunia. Mendengar hal itu, Al-Faruq radhiallahu ‘anhu memejamkan kedua matanya dalam keadaan penuh dengan air mata. Air mata pun mengalir, lalu dia membuka kedua matanya dalam kepasrahan. Ia memohonkan rahmat Allah untuk sahabatnya dalam keadaan air mata mengalir dari kedua matanya, air mata orang-orang shalih. Air mata mengalir karena kematian orang-orang yang shalih. Al-Faruq Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Seandainya aku boleh berangan-angan, maka aku hanya mengangankan sebuah rumah yang dipenuhi orang-orang semisal Abu Ubaidah.”
Kepercayaan umat meninggal dunia di atas bumi yang telah dibersihkannya dari paganisme Persia yang beragama Majusi dan dari keangkara murkaan Romawi. Di sana pada hari ini, di bawah tanah Yordan, jasad yang suci dikebumikan. Ia menjadi tempat bagi ruh yang baik dan jiwa yang tentram.
Muhammad al-Fatih, Penakluk
Konstantinopel
Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.
Sultan Muhammad al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.
Ø Karakter
Pemimpin Yang Ditanamkan Sejak Kecil
Muhammad
al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu
kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang
merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah.Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Muhammad kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!
Walaupun usianya baru seumur jagung, sang ayah, Sultan Murad II, mengamanati Sultan Muhammad memimpin suatu daerah dengan bimbingan para ulama. Hal itu dilakukan sang ayah agar anaknya cepat menyadari bahwa dia memiliki tanggung jawab yang besar di kemudian hari. Bimbingan para ulama diharapkan menjadi kompas yang mengarahkan pemikiran anaknya agar sejalan dengan pemahaman Islam yang benar.
Ø Menjadi
Penguasa Utsmani
Sultan
Muhammad II diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah pada tanggal 5 Muharam 855 H
bersamaan dengan 7 Febuari 1451 M. Program besar yang langsung ia canangkan
ketika menjabat sebagai khalifah adalah menaklukkan Konstantinopel.Langkah pertama yang Sultan Muhammad lakukan untuk mewujudkan cita-citanya adalah melakukan kebijakan militer dan politik luar negeri yang strategis. Ia memperbarui perjanjian dan kesepakatan yang telah terjalin dengan negara-negara tetangga dan sekutu-sekutu militernya. Pengaturan ulang perjanjian tersebut bertujuan menghilangkan pengaruh Kerajaan Bizantium Romawi di wilayah-wilayah tetangga Utsmaniah baik secara politis maupun militer.
Ø Menaklukkan
Bizantium
Sultan
Muhammad II juga menyiapkan lebih dari 4 juta prajurit yang akan mengepung
Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium banyak pasukan
Utsmani yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut. Pengepungan yang
berlangsung tidak kurang dari 50 hari itu, benar-benar menguji kesabaran
pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan mereka.Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak mula. Sebelum musuh mencapai benteng mereka, Bizantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.
Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosporus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi. Sultan Muhammad melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.
Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak mengira Sultan Muhammad dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu kemustahilan menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi.
Tanduk Emas atau Golden Horn, di
Istanbul, Turki.
Saat memasuki Konstantinopel, Sultan Muhammad al-Fatih turun dari kudanya lalu sujud sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri Islam, lau akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul.
Selain itu, Sultan Muhammad al-Fatih juga memerintahkan untuk membangun masjid di makam sahabat yang mulia Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wafat saat menyerang Konstantinopel di zaman Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu.
Apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad tentu saja bertentangan dengan syariat, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ.
“… Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan perbuatan itu.” (HR. HR. Muslim no.532)Kekeliruan yang dilakukan oleh Sultan Muhammad tidak serta-merta membuat kita menafikan jasa-jasanya yang sangat besar. Semoga Allah mengampuni kesalahan dan kekhilafannya beliau rahimahullah.
Setelah itu rentetat penaklukkan strategis dilakukan oleh Sultan Muhammad al-Fatih; ia membawa pasukannya menkalukkan Balkan, Yunani, Rumania, Albania, Asia Kecil, dll. bahkan ia telah mempersiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di Italia, akan tetapi kematian telah menghalanginya untuk mewujudkan hal itu.
Ø Peradaban
Yang Dibangun Pada Masanya
Selain
terkenal sebagai jenderal perang dan berhasil memperluas kekuasaan Utsmani
melebihi sultan-sultan lainnya, Muhammad al-Fatih juga dikenal sebagai seorang
penyair. Ia memiliki diwan,
kumpulan syair yang ia buat sendiri.Sultan Muhammad juga membangun lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah Utsmani. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Muhammad II dan Jami’ Abu Ayyub al-Anshari.
Ø Wafatnya
Sang Penakluk
Pada
bulan Rabiul Awal tahun 886 H/1481 M, Sultan Muhammad al-Fatih pergi dari
Istanbul untuk berjihad, padahal ia sedang dalam kondisi tidak sehat. Di tengah
perjalanan sakit yang ia derita kian parah dan semakin berat ia rasakan. Dokter
pun didatangkan untuk mengobatinya, namun dokter dan obat tidak lagi bermanfaat
bagi sang Sultan, ia pun wafat di tengah pasukannya pada hari Kamis, tanggal 4
Rabiul Awal 886 H/3 Mei 1481 M. Saat itu Sultan Muhammad berusia 52 tahun dan
memerintah selama 31 tahun. Ada yang mengatakan wafatnya Sultan Muhammad al-Fatih
karena diracuni oleh dokter pribadinya Ya’qub Basya, Allahu a’lam.Tidak ada keterangan yang bisa dijadikan sandaran kemana Sultan Muhammad II hendak membawa pasukannya. Ada yang mengatakan beliau hendak menuju Itali untuk menaklukkan Roma ada juga yang mengatakan menuju Prancis atau Spanyol.
Sebelum wafat, Muhammad al-Fatih mewasiatkan kepada putra dan penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan.
Semoga Allah membalas jasa-jasamu wahai Sultan Muhammad al-Fatih…
Abu Ubaidah Al-Jarrah, Orang
Kepercayaan Umat Ini
Sahabat inilah yang pertama-tama dijuluki sebagai pemimpin para pemimpin (Amirul Umara). Dialah orang yang dipegang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kanannya seraya bersabda mengenai dirinya,
إِنَّ لَكُمْ أُمَّةً أَمِيْنًا، وَإِنَّ أَمِيْنَ هذِهِ اْلأُمَّةِ أَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنُ اْلجَرَّاحِ
“Sesungguhnya setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.“
Orang kepercayaan inilah yang disebut-sebut Al-Faruq radhiallahu ‘anhu pada saat akan menghembuskan nafas terakhirnya, “Seandainya Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu masih hidup, niscaya aku menunjuknya sebagai penggantiku. Jika Rabb-ku bertanya kepadaku tentang dia, maka aku jawab, ‘Aku telah menunjuk kepercayaan Allah dan kepercayaan Rasul-Nya sebagai penggantiku’.”
Ia masuk Islam lewat perantaraan Ash-Shiddiq di masa-masa awal Islam sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk Darul Arqam. Ia berhijrah ke Habasyah yang kedua. Kemudian kembali untuk berdiri di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salalm dalam Perang Badar. Ia mengikuti peperangan seluruhnya, kemudian melanjutkan berbagai peperangan bersama Ash-Shiddiq dan Al-Faruq radhiallahu ‘anhuma.
Sikap yang ditunjukkannya dalam perang Uhud menjelaskan kepada kita bahwa ia benar-benar kepercayaan umat ini, di mana ia tetap menebaskan pedangnya yang terpercaya kepada pasukan kaum paganis. Setiap kali situasi dan kondisi perang mengharuskannya jauh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia berperang sembari kedua matanya memperhatikan di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertempur.
Di salah satu putarannya dan peperangan telah mencapai puncaknya, Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu dikepung oleh segolongan kaum musyrikin. Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu kehilangan kesadarannya, ketika melihat anak panah meluncur dari tangan orang musyrik lalu mengenai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia menyerang orang-orang yang mengepungnya dengan pedangnya dan seolah-olah ia memegang seratus pedang, sehingga membuat mereka tercerai berai. Lantas ia berlari bak terbang menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia melihat darah beliau yang suci mengalir dari wajahnya, dan melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap darah itu dengan tangan kanannya seraya bersabda,
كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ خَضَبُوْا وَجْهَ نَبِيِّهِمْ، وَهُوَ يَدْعُوْهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ
“Bagaimana akan beruntung suatu kaum yang melumuri wajah Nabi mereka, padahal dia menyeru kepada Rabb mereka.” (Lihat, Tafsir al-Qurthubi, 4/ 199)Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu menerangkan kepada kita tentang fenomena ini lewat pernyataannya, “Pada saat perang Uhud, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkena lemparan sehingga dua bulatan besi menancap di dahinya, aku cepat-cepat menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara ada seseorang yang datang dari arah timur berlari kencang seperti terbang, maka aku katakan, ‘Ya Allah, jadikanlah itu sebagai ketaatan.’ Ketika kami sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata ia adalah Abu Ubaidah bin Jarrah yang telah datang lebih dulu daripadaku. Ia berkata, ‘Aku meminta kepadamu, dengan nama Allah, wahai Abu Bakar, biarkan aku mencabutnya dari wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Aku pun membiarkannya. Ubaidah mengambil dengan gigi serinya salah satu bulatan besi itu, lalu mencabutnya dan jatuh ke tanah, gigi serinya pun jatuh bersamanya. Kemudian ia mengambil sepotong besi lainnya dengan gigi serinya yang lain sampai jatuh. Sejak saat itu, Abu Ubaidah di tengah khalayak dijuluki dengan Atsram (yang terpecah giginya, atau jatuh dari akarnya).
Pada saat delegasi Najran dari Yaman datang untuk menyatakan keislaman mereka, dan meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mengutus bersama mereka orang yang mengajarkan kepada mereka Alquran, Sunnah dan Islam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada mereka,
لأَبْعَثَنَّ مَعَكُمْ رَجُلاً أَمِيْنًا، حَقَّ أَمِيْنٍ، حَقَّ أَمِيْنٍ، حَقَّ أَمِيْنٍ
“Aku benar-benar akan mengutus bersama kalian seorang pria yang sangat dapat dipercaya, benar-benar orang yang dapat dipercaya, benar-benar orang yang dapat dipercaya, benar-benar orang yang dapat dipercaya.” (Thabaqat Ibn Sa’d, 3/ 314)Semua sahabat berharap bahwa dialah yang bakal dipilih oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata persaksian ini menjadi keberuntungannya.
Umar Al-Faruq radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku tidak menyukai suatu jabatan pun sebagaimana aku menyukainya pada saat itu, karena berharap akulah yang bakal memperolehnya. Aku pergi untuk shalat Zhuhur dengan berjalan kaki. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Zhuhur bersama kami, beliau mengucapkan salam, kemudian memandang ke kanan dan ke kiri. Aku menegakkan punggungku agar beliau melihatku. Tapi beliau terus mengarahkan pandangannya hingga melihat Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Kemudian beliau memanggilnya seraya bersabda,
اُخْرُجْ مَعَهُمْ، فَاقْضِ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ
‘Keluarlah bersama mereka. Putuskan perkara di antara mereka dengan haq dalam segala hal yang mereka perselisihkan’.“Akhirnya, Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu pergi bersama mereka.
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu berjalan di bawah panji Islam. Sekali waktu ia bersama para pasukan biasa, dan pada kesempatan yang lain bersama para panglima. Sampai datanglah masa Umar radhiallahu ‘anhu, ia menjabat sebagai panglima pasukan Islam di salah satu peperangan besar di Syam. Ia mendapatkan kemenangan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam peperangan ini, hingga ia menjadi hakim dan gubernur negeri Syam, dan perintahnya ditaati.
Amirul Mu’minin Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mengunjungi Syam, dan bertanya kepada orang-orang yang menyambutnya, “Di manakah saudaraku?” Mereka bertanya, “Siapa?” Ia menjawab, “Abu Ubaidah bin al-Jarrah.” Ketika Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu datang, Umar memeluknya. Kemudian Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu membawa Umar radhiallahu ‘anhu ke rumahnya. Di dalam rumah tersebut, Umar tidak melihat sedikit pun perkakas rumah tangga, kecuali pedang, perisai dan untanya. Umar radhiallahu ‘anhu bertanya kepadanya sembari tersenyum, “Mengapa engkau tidak memiliki sesuatu untuk dirimu sebagaimana dilakukan orang lain?” Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu menjawab, “Wahai Amirul Mu’minin, inilah yang bisa mengantarkanku ke akhirat.”
Pada suatu hari, pada saat Al-Faruq Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berada di Madinah, seorang informan datang kepadanya untuk mengabarkan bahwa Abu Ubaidah telah meninggal dunia. Mendengar hal itu, Al-Faruq radhiallahu ‘anhu memejamkan kedua matanya dalam keadaan penuh dengan air mata. Air mata pun mengalir, lalu dia membuka kedua matanya dalam kepasrahan. Ia memohonkan rahmat Allah untuk sahabatnya dalam keadaan air mata mengalir dari kedua matanya, air mata orang-orang shalih. Air mata mengalir karena kematian orang-orang yang shalih. Al-Faruq Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Seandainya aku boleh berangan-angan, maka aku hanya mengangankan sebuah rumah yang dipenuhi orang-orang semisal Abu Ubaidah.”
Kepercayaan umat meninggal dunia di atas bumi yang telah dibersihkannya dari paganisme Persia yang beragama Majusi dan dari keangkara murkaan Romawi. Di sana pada hari ini, di bawah tanah Yordan, jasad yang suci dikebumikan. Ia menjadi tempat bagi ruh yang baik dan jiwa yang tentram.