Kawan, postingan kali ini tentang salah satu pulau kecil di provinsi jawa timur yang terkenal dengan berbagai kesan miring dari masyarakat. Namun, alangkah lebih baiknya kita kenali dulu daerah tersebut, sebalum kita berkisah tentangnya. Check it out.....!!!
I
Kesan miring tentang Madura sebenarnya akibat tindak tanduk negatif sebagian kecil orang Madura
di perantauan. Salah satu contoh, ludruk Surabaya yang populer pada
tahun 1950-an sering menampilkan cerita Pak Sakera, laki-laki beringas
yang banyak menumpahkan darah. Tokoh legendaris yang banyak merenggut
nyawa dengan celuritnya itu agaknya, secara simbolis telah dianggap
mewakili sosok laki-laki Madura. Ditambah lagi ada segelintir orang
Madura yang menjadi barisan “Cakra” yang dikoordinir penjajah Belanda
pada zaman revolusi fisik. Barisan itu terdiri dari orang-orang Madura
yang digunakan Belanda untuk menghancurkan kedaulatan R.I. di pulau
Jawa. Kebanyakan mereka terdiri dari buruh kasar, pekerja pelabuhan,
penjual sate, buruh dan pedagang kecil yang terdesak oleh tekanan
ekonomi, di samping mereka tidak mengerti nasionalisme. Karena bujukan
Belanda akhirnya mau menjadi serdadu bayaran.
Imej
negatif akibat beberapa kasus yang saya sebutkan di atas bukan hanya
menjadi kabut bagi orang-orang luar Madura saja, bahkan sampai-sampai
ada beberapa gelintir putera Madura setelah sukses di rantau yang
kemudian merasa malu dan enggan mengaku orang Madura. Akibat kesan
negatif itu banyak orang menjadi lupa kepada Aria Wiraraja yang menjadi
konseptor berdirinya kerajaan Majapahit; lupa kepada Trunojoyo yang
pemberontakannya pernah mengkocarkacirkan kekuatan kolonial Belanda di
Jawa; lupa kepada K.H. Kholil Bangkalan
yang murid-muridnya menjadi pemimpin-pemimpin pesantren besar yang
bertaburan di seluruh Indonesia; lupa kepada M. Tabrani yang menjadi
salah seorang pelopor tercetusnya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober
1928; serta lupa kepada Abd. Halim Perdanakusuma yang gugur untuk
kemerdekaan Indonesia.
Nama-nama
yang saya sebut di atas seharusnya menjadi contoh teladan bagi orang
Madura masa kini untuk bisa hidup bermakna dan berguna bagi orang lain.
Miringnya
imej tentang orang Madura itu ialah karena kurangnya informasi yang
luas yang mampu untuk menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya.
Selama ini publikasi tentang Madura belum mengungkapkan sikap
krakteristik orang Madura secara mendasar sehingga denyut lubuk jantung
Madura yang sebenarnya masih sedikit sekali dikenal orang.
II
Buku-buku
ilmiah yang membicarakan hal itu bukan hanya jarang tetapi agak sulit
dijumpai. Kesulitan ini saya atasi dengan melacak beberapa rujukan yang
masih mungkin didapat dengan mencari ungkapan-ungkapan dalam bentuk
peribahasa, seloka dan lain-lain, yang menggambarkan sikap budaya manusia Madura.
Sastra Madura,
terutama sastra lisan pernah berkembang dengan semarak. Sebelum ada
radio dan televisi sering dijumpai seorang nenek di bawah bulan purnama
berdongeng kepada cucu-cucunya. Tradisi bertutur sebelum tahun 1970-an
menjadi kegiatan yang mengasikkan. Buku “Siman dan Simin jilid II”
karangan Oemar Sastrodiwirjo melukiskan 2 orang anak sekolah (SD)
ketika berlibur ke rumah neneknya mendapat hadiah dongeng yang
menyenangkan. Buku bacaan itu meskipun fiksi, tetapi benar-benar
menggambarkan realitas kehidupan sehari-hari pada tahun 1950-an.
Sekarang sudah jarang nenek yang bisa mendongeng.
Sastra
lain yaitu pepatah petitih yang selalu diucapkan untuk menanggapi
liku-liku kehidupan sehari-hari. Meskipun pepatah sekarang jarang
dipakai terutama dalam pergaulan di kota namun dari pepatah lama itu
masih bisa ditangkap warna dan sikap jiwa masyarakat
Madura dari generasi ke generasi, meskipun pada empat dasawarsa
terakhir ini sudah terasa adanya kecendrungan bergesernaya nilai-nilai,
yaitu sejak bahasa Madura tidak lagi diajarkan di sekolah-sekolah.
III
Salah satu diantara pepatah Madura ada yang berbunyi abantal omba’ asapo’ angen (berbantal ombak
berselimut angin). Ungkapan ini menggambarkan cita-cita, ketangguhan
dan sikap pantang menyerah kepada laut betapa pun kerasnya gelombang
menggebu. Kalau kita melihat peta Indonesia, pulau Madura
akan terlihat di bagian bawah seperti seekor induk ayam yang diikuti
tidak kurang 70 ekor anaknya yang merupakan pulau-pulau kecil yang
termasuk kepualauan Madura. Dari banyak pulau itu sejak dahulu kala
muncul bahariwan-bahariwan tangguh yang sanggup untuk mengarungi laut
sampai keseluruh laut di kawasan Nusantara. Agar bisa mengarungi laut
mereka membuat perahu. Untuk menunjukkan bahwa orang Madura punya etos
kelautan, Sulaiman, BA telah berkeliling ke seluruh pulau-pulau yang
termasuk kepulauan Madura. Dari hasil penelitian yang tebalnya lebih
dari 200 halaman itu ditemukan bahwa bentuk-bentuk perahu Madura
sebanyak 36 jenis, dengan nama jenis bentuk yang berbeda pula, antara
lain: parao lete’, lo-molowan, sampan pajangan, sampan kateran, janggolan, parao kaci’ dan lain-lain. Dua jenis di antaranya sekarang sudah punah dan tidak dibuat orang lagi, yaitu paddhuwang dan karoman.
Dari
36 jenis bentuk perahu itu bisa ditarik kesimpulan bahwa orang Madura
pada abad-abad yang lalu telah berupaya menjawab permasalahan hidup,
antara lain dengan menjadi pelaut, karena itu mereka membuat aneka ragam
perahu yang bentuknya disesuaikan dengan keadaan medan di laut.
Ir.
Bambang Irawan, seorang peneliti dari Institut Teknologi 10 Nopember
Surabaya, pernah mengatakan, bahwa, sudah sepantasnya kalau dibangun
sebuah “museum bahari” di Madura, mengingat kekayaan ragam perahu Madura
dengan semua variasinya merupakan salah satu kekayaan khasanah
kebudayaan Indonesia.
Kemampuan
dalam menciptakan ragam bentuk juga tampak dalam membuat rumah. Di
Madura kita melihat rumah pegun, potongan, pacenan, peseseran dan
lain-lain. Pada rumah pegun terlihat bentuk seperti perahu sebagai
mahkota. Ini menunjukkan meskipun orang Madura berumah di pedalaman
masih senang memakai simbol laut.
Orang
Madura membuat perahu maupun rumah, selalu dihiasi dengan ukir-ukiran.
Ciri ukiran Madura itu, banyak berupa tumbuh-tumbuhan, bunga-bungaan dan
sedikit sekali yang berupa binatang. Sampai pertengahan abad ke-20
ukiran Madura masih digemari masyarakat Madura. Bahkan, secara umum benda-benda yang dipakai orang Madura dihiasi ukir-ukiran, seperti gamparan (alas kaki dari kayu), jantera, centong nasi, balai-balai, peralatan kerapan sapi dan benda-benda lainnya.
Kesenian Madura yang lain seperti, topeng dhalang, sandur, pojian, ratep, pantil, sintung, sronen dan lain-lain merupakan warisan budaya Madura masa lampau yang banyak diperlihatkan para pengamat seni karena karakter Maduranya yang spesifik.
Dari
semua hasil kreatif orang Madura yang berupa kesenian itu secara umum
bisa disimpulkan adanya ekspresi estetik orang Madura. Juga dalam
pepatah “abantal omba’ asapo’ angen” tersirat gejolak jiwa yang
ingin melanglangbuana serta kesiapan dan ketabahan untuk melawan segenap
rintangan betapapun besar dan hebatnya. Hal itu dibuktikan pula dengan
banyaknya orang Madura yang suka merantau, mengadu untung di negeri
orang, baik menjadi pedagang kaki lima, penjaja sayur, penjual sate,
pedagang buah-buahan, pekerja kasar dan ada pula yang pedagang menengah
dan usahawan. Umumnya mereka memulai usaha-usaha dari kelas yang paling
bawah, dan mereka berusaha dengan tekun dan tabah untuk memperbaiki
kehidupannya. Semangat kerja keras
untuk mencari sesuap nasi tampak sekali, yaitu mereka mau bekerja apa
saja meskipun dipandang rendah oleh orang lain, asalkan rejeki yang
didapatnya halal.
Mereka terus
berusaha menyelami medan kehidupannya sehingga satu ketika ditemukan
seni sukses atau kiat dalam bidang usahanya. Refleksi dan spontanitas
mereka setelah mapan dalam sebuah bidang usaha, betapapun kecilnya usaha
itu, tercermin karakter yang khas baik dalam sikap maupun dalam
ucapannya.
Dari pepatah yang saya
sebutkan pertama ini, tersimpul gairah hidup, vitalitas untuk tetap
tegar menghadapi penderitaan dan hambatan. Hal itu merupakan denyut nadi
manusia Madura yang berupaya tabah menghadapi pahit getirnya gelombang
kehidupan.
IV
Pepatah abantal syahadat asapo’ iman
(berbantal syahadat berselimut iman) melukiskan religiusitas orang
Madura yang terkenal fanatik terhadap agamanya (Islam). Itu bisa dilihat
pada umumnya dalam kelengkapan rumah tradisional Madura ada bangunan
yang diletakkan di sebelah barat halaman dengan menghadap ke timur yang
disebut langgar, sebagai tempat untuk mengerjakan shalat.
Anak-anak sejak berumur 5 tahun sudah diserahkan kepada guru ngaji akau
kiai untuk belajar agama. Pesantren-pesantren besar atau pun kecil
selalu dijumpai di mana-mana, sampai ke pulau Kangean.
Dalam
hal itu, kiai telah muncul sebagai pemandu nilai-nilai yang biasanya
lebih dihargai masyarakat pedesaan dari pemimpin formal. Kiai bukan
hanya sebagai pengajar agama, akan tetapi lebih dari itu ialah, sebagai
konsultan untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan.
Pada
zaman penjajahan banyak kiai sengaja menjauhi kota dengan bermukim di
pedesaan dan bahkan ada yang jauh di kaki gunung karena mereka umumnya
enggan bekerjasama dengan pemerintah penjajah Belanda. Sehingga tidak
mustahil kalau saat itu banyak kiai yang mengharamkan dasi, celana dan
membayar pajak sebagai tanda tidak senang pada penjajah.
Ikatan
orang Madura dengan agama sedemikian kuat, seorang Madura yang
sehari-harinya tidak melaksanakan syariat agama, akan marah kalau
disebut bukan orang Islam. Sikap mencintai agama seperti itu sebenarnya
bisa menjadi modal untuk melangkah menuju pengamalan agama dari sumber
aslinya sebagai manifestasi keyakinan kepada Tuhan. Dengan demikian,
agama bukan hanya diterima sebagai warisan tradisi, tetapi benar-benar
di tempatkan pada bagian yang paling vital dalam mewarnai kehiduppan.
V
“Pote mata pote tolang, ango’ poteya tolang”
(putih mata putih tulang,lebih baik puti tulang) ialah pepatah yang
maksudnya, dari pada hidup menanggung malu lebih baik mati. Ungkapan itu
menyiratkan pentingnya menjaga harga diri bagi manusia Madura. Tetapi
sering disalah artikan sehingga bisa memacu “carok”.
Sebagian kecil orang Madura kalau istrinya diganggu laki-laki lain,
atau salah seorang keluarga dekatnya dipermalukan orang sampai
menurunkan martabat kekeluargaan, atau air yang mengenangi sawahnya
diambil orang, akan menjadi masalah yang prinsip dengan melakukan
carok. Padahal kalau ungkapan itu diinterpretasikan secara intelektual
berarti, lebih baik mati dibandingkan hidup tercemar malu dan tanpa
kehormatan. Karena itu orang Madura yang mengerti moral akan berusaha
menjaga kehormatan agar tidak berbuat yang memalukan.
Dalam filsafat hidup orang Madura ada ungkapan “mon ba’na etobi’ sake’ ajja’ nobi’an oreng”
(kalau kamu dicubit merasa sakit janganlah mencubit orang). Jika
ungkapan di atas difahami dengan sikap cerdas, seseorang akan berusaha
keras untuk menghormati orang lain, agar orang lain tidak terlukai oleh
ulahnya.
Membunuh orang meskipun
demi martabat sudah tentu sangat bertentangan dengan hukum yang berlaku,
akan tetapi kalau kriminalitas carok bisa ditekan mereda, tidak berarti
harus menekan pupusnya harga diri. Menata harga diri untuk hidup
terhormat adalah sesuatu yang essensial dalam kemanusiaan yang adil dan
beradab. Pepatah “pote mata pote tolang, ango’ poteya tolang”
apabila dipandang dengan akal sehat, bisa dijadikan panduan untuk
memuliakan martabat kemanusian setiap orang, dengan catatan,
interpretasi yang cenderung mengarah ke kriminalitas harus dibuang
jauh-jauh.
Dalam hal itu buku Baburugan Becce’ yang ditulis oleh Mas Wignyoamidarmo terbit di Jakarta tahun 1909, pada pengantarnya, antara lain dijelaskan seperti ini:
“Selerressa
akkal paneka menangka komodhdhina manossa. Oreng se korang pangarteyan,
ampon nyata odi’ epon kadiya parao e tengnga tase’ se tadha’
komodhdhiepon.
Nyama se sae paneka kodu esare gu-onggu, kodu eparlowagi panyareepon, lebbiyagi parlo pole dhari panyareepon kasogiyan.”
(Akal
itu berfungsi sebagai kemudi kehidupan manusia. orang yang kurang
pengetahuan hidupnya seperti perahu yang berlayar tanpa kemudi.
Nama baik (harga diri) seyogyanya diupayakan dengan sungguh-sungguh, lebih diutamakan dari mencari harta benda (kekayaan).
Dengan meresapi “pote mata pote tolang, ango’ poteya tolang”,
seseorang akan malu untuk berbuat sesuatu yang melanggar norma-norma
yang telah disepakati masyarakat. Sebab dengan berbuat yang tidak
senonoh itu akan membuat coreng hitam di wajah sendiri.
Kalau
ada seseorang yang melanggar adat, tidak tahu sopan santun, dan tidak
menjaga kehormatan dirinya, dalam pepatah Madura disebut “Ta’tao Judanagara” (tidak kenal Yudonegoro). Yudonegoro adalah seorang tumenggung yang memerintah daerah Sumenep
pada abad ke-17. Ia sangat bersimpati pada perjuangan Trunojoyo. Ia
terkenal sebagai seorang tumenggung yang menghormati orang kecil, adil
dan bijaksana dalam menjalankan roda pemerintahan. Karena keluhuran budi
pekertinya, namanya dikekalkan dalam pepatah.
Selanjutnya buku “Baburugan Becce’” menggambarkan sikap manusia (Madura) yang menjelaskan sebuah kerangka moralitas sebagai berikut:
Sekebba
oreng ana-barna: kerres, tombak, peddhang, jambiya’, lancor ajam ban
salaenna. Kep-sekep se kasebbut e attas jareya kabbi tadha’ se bisa
ngongkole so kep-sekep se esebbuttagi e baba reya:
- Tello’ parkara areya kodu ejaga: jila, adat, kalakowan.
- Tello’ parkara reya kodu ekaandhi’: ate sacca (esto), ate socce, jujur.
- Tello’ parkara reya kodu ekabaji’i: mangga’an, nespa, ta’andhi’panarema.
- Tello’ parkara reya kodu eengguna: saroju’, kabunga’anna ate, kasennengnganna ate.
- Tello’ parkara reya kodu epeyara (eomesse): bakto (baja), pesse, kabarasan.
- Tello’ parkara reya kodu ehormate (eaji’i): omor, uwet (dhang-ondhang), agama.
(Manuasia
mempunyai senjata bermacam-macam, keris, tombak, pedang, jembia,
celurit dan lain-lain. Senjata-senjata itu semua kegunaannya di dalam
kehidupan tidak akan bisa melebihi pegangan yang tersebut di bawah ini:
- Tiga hal yang harus dijaga: lidah, adat dan pekerjaan.
- Tiga hal yang harus dipunyai: hati yang setia (persahabatan), nurani yang suci dan hati yang jujur.
- Tiga hal yang harus dijauhi: tega hati (aniaja), rendah diri (bukan rendah hati) dan tidak bisa menerima kenyataan hidup.
- Tiga hal yang harus ditempati: menjunjung tinggi musyawarah, kebahagiaan hati dan kesenangan (ketenangan) hati.
- Tiga hal yang harus dipelihara: waktu, uang dan kesehatan.
- Tiga hal yang harus dihormati: umur, undang-undang dan agama).
Dalam buku Baburugan Becce’
yang sebagian kerangkanya dikutipkan di atas mengurai secara mendetail
tatakrama manusia hidup sehingga buku itu bisa disebut sebagai buku
pelajaran etika dan moralitas orang Madura kurang lebih 100 tahun yang
lalu. Penulisan buku itu tentu berdasarkan adat dan tata kehidupan yang
terdapat pada kelompok etnis Madura.
Gambaran
lain tentang manusia Madura bisa dilihat pada tokoh wayang seperti
Baladewa. Kalau orang Jawa mempunyai tokoh favorit seperti Kresna dan
Arjuna, orang Madura mempunyai tokoh Baladewa. Di mata orang Madura,
meskipun Baladewa terkenal tegas dan kaku, tetapi ia selalu konsisten
terhadap kebenaran, jujur dan adil serta rela berkorban. Bila mendapat
penjelasan yang dapat meyakinkan hatinya, wataknya mudah berubah menjadi
lemah lembut.
Sikap rendah hati orang Madura bisa dilihat ketika orang Madura menyebut “anak saya” dengan “budhu’ kaula”, pada hal istilah “budhu’” lazimnya dipakai untuk anak binatang.
VI
Untuk melengkapi lukisan sosok manusia Madura, ada “saloka”, ungkapan yang lebih menjelaskan sosok manusia Madura yang bertanggungjawab terhadap kehidupan, lingkungan dan alam sekitarnya.
Mon bagus pabagas (kalau
engkau ganteng harus gagah), maksudnya seseorang yang cakep harus
dilengkapi dengan keperwiaraan atau kepahlawanan, yaitu semangat
berkorban untuk kepentingan masyarakat.
Mon kerras paakerres (kalau
engkau keras harus berkeris) maksudnya seseorang yang hendak bertindak
tegas harus disertai kewibawaan dan keadilan. Sebuah ketegasan tampa
wibawa bisa menimbulkan keresahan dan ketidakpuasan.
Mon sogi pasoga’ (kalau engkau kaya harus tegar), mempunyai arti, seseorang yang kaya harus punya hati tegar untuk menolong kaum miskin.
Dalam
ketiga ungkapan di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa, seorang
individu, lebih-lebih pemimpin, haruslah bermanfaat bagi masyarakat. Solidaritas
seyogyanya diwujudkan dengan memanfaatkan kelebihan yang ada pada diri
seseorang untuk kepentingan orang banyak sebagai upaya untuk menghargai
orang lain. Di Madura terdapat lagi ungkapan seperti mon ba’na penter ngargai oreng, bakal eargai oreng (kalau
engkau pandai menghargai orang lain, engkau akan dihargai orang juga).
Menghargai dan mengerti orang lain adalah bekal utama dalam menjalani
kerukunan dan persaudaraan dengan siapa pun. Tanpa saling mengerti dan
saling menghargai sulit tercipta iklim sejuk yang penuh perdamaian.
Dalam mengenal pandangan hidup orang Madura yang ideal, tidak boleh seseorang itu ngerrep oreng sala, (menyembunyikan,
melindungi dan membela orang yang salah). Jika seseorang melindungi
orang yang salah ia akan dipandang sama dosanya dengan orang yang salah
tersebut.
Kalau ada orang Madura
yang berbuat aniaya, malas, suka menipu dan manipulasi, suka mengganggu
hak orang lain, jelas ia telah keluar dari tatanan nilai idealistik
sebagai konsensus yang telah disepakati bersama. Sikap tercela lainnya
dalam pandangan hidup orang Madura, raja cethak (besar kepala alias sombong), acethak dhuwa’ (berkepala dua alias munafik), tama’ (rakus), dan lain-lain. Sikap seperti itu harus dihindari karena bisa merusak persaudaraan dan pergaulan.
VII
Dari
uraian di atas, barangkali telah bisa dilihat sosok budaya manusia
Madura, yang idealistik yang masih relevan untuk dijadikan bekal
membangun masa depan yang lebih baik. Dalam buku “Mempertimbangkan
Tradisi”, WS. Rendra menyatakan bahwa, tradisi itu tidak seluruhnya
harus digusur habis. Manusia sekarang perlu bersikap kreatif terhadap
tradisi. Maksudnya, bagian tertentu dari tradisi yang sudah beku harus
dibuang karena ia bisa menghambat dinamika kehidupan. Tradisi yang tidak
pernah dikelola secara kreatif dan kritis sama dengan jalan-jalan di
tempat, tidak akan pernah maju kedepan. Sedang waktu terus akan berjalan
bersama arus modernitas. Sekelompok manusia yang disebut masyarakat
yang memeluk tradisi secara kaku tidak akan bisa menjawab
permasalahan-permasalah kehidupan yang nantinya semakin kompleks.
Saat
ini zaman telah memasuki era teknologi dengan segenap tantangan.
Masyarakat Madura kini berada dipersimpangan jalan kebudayaan. Antara
tradisi dan modernisasi tidak harus terjadi tabrakan yang mengakibatkan
bagian penting dari tradisi yang baik turut hancur berantakan. Dalam hal
ini perlu dicari jalan keluar dengan proses yang wajar sehingga
hasilnya mempunyai manfaat besar.
Ketika
memperingati 50 tahun “Polemik Kebudayaan” pada tanggal 18 – 20 Maret
1986 di Jakarta, banyak tokoh-tokoh kebudayaan Indonesia yang masih
mementingkan nilai-nilai tradisional positif untuk mewarnai dinamika
masyarakat Indonesia moderen. Kita lihat Jepang menjadi gagah karena ke
akar tradisinya dengan semangat “samurai”nya.
Menuju “Keindonesiaan” yang makin mantap dan matang serta tegar, yang didasari semboyan “Bhineka Tunggal Ika”,
masyarakat Madura sekarang harus ikut berproses. Di persimpangan jalan
kebudayaan orang Madura kini sedang memasuki babakan transisi. Transisi
dalam proses transpormasi budaya, meminta perhatian para pemangku
kebudayaan dari semua sektor, baik budayawan birokrat, budayawan kampus
dan budayawan yang berada di “angin” perlu saling dukung mendukung
dengan kesatuan bahasa dan konsepsi. Itu pun harus didukung pula oleh
seluruh warga masyarakat sendiri untuk bisa maju.
Soren
Kierkagaard mengatakan bahwa, hidup manusia mempunyai tiga taraf,
yaitu: estetis, etis dan religius. Dari sudud estetis manusia Madura
masa lampau telah mengungkapkan dirinya dengan aneka ragam bentuk
kesenian, sastra, musik, tari, ukir dan lain-lainnya dengan mutu yang
baik. Dari sudut kehidupan etis, orang Madura selalu menjaga harga diri,
giat bekerja, jujur, reseptif terhadap nilai-nilai positif dari luar,
tegas dalam membela kebenaran, hormat kepada orang lain (andap asor)
dan solidaritasnya tinggi. Sedangkan dari sudut religius, manusia
Madura adalah pecinta agama. Ketiga aspek itu menunjukkan sikap hidup
yang menuju kemuliaan.
Orang Madura, baik yang tinggal di pulau Madura maupun yang ada di perantauan seyogyanya tidak meninggalkan nilai-nilai luhur
yang telah saya uraikan untuk menjamin hidup rukun dan damai. Khusus
bagi orang Madura yang ada di rantau, ada nasehat dari orang tua-tua: oreng andhi’ tatakrama reya padha bi’ pesse Singgapur ekabalanja’a e dhimma bai paju
(Orang punya budi pekerti baik itu seperti dollar Singapura, akan
dibelanjakan di mana saja laku). Karena itu setiap orang Madura
seyogyanya tetap mengutamakan budi luhur untuk menjalin persaudaraan dan
persahabatan dengan siapa saja dan dengan etnik mana saja.
Akhirnya,
marilah kita terus berpikir dan bekerja. Berpikir, membaca, menulis,
berdiskusi dan berseminar. Tapi tidak cukup itu saja. Manusia Madura
harus bekerja, terlibat dan turun tangan untuk membentuk peradaban baru.