" ( dari seorang sahabat ) "
***
Suatu saat seorang teman bertanya, "Kamu cinta sama si doi ? ". Dengan lantang dan tanpa ragu, lidah ini pun menari dengan sendirinya " Aku sangat mencintainya, entah dari mana datangnya, namun inilah yang ku rasa ". Jawaban yang tak tahu dari mana asalnya, ketika hati bak ruang kosong hanya udara sejuk yang mengisinya, ketika otak terasa tak lagi memiliki beban dan seolah tak kan ada lagi rasa penyesalan yang akan datang, . Yah, disanalh kata-kata itu muncul, layaknya sebuah ketulusan dimana hati tak mengharapkan spercik pun balasan kecuali penghidupan dari hati yang didambakan, bagaikan sebuah keikhlasan dimana hati hanya menggantungkan diri pada hati yang diidamkan. Sungguh sebuah pengharapan yang hanya berpusat pada titik yang tak berarah.
***
Di hari selanjutnya, tanpa terencana dan sedikitpun terbesit dalam pikiran, sebuah pertanyaan dilontarkan oleh seorang ustad kepada para jamaahnya " Cinta kah kita kepada ALLAH ?". Tanpa disengaja, telinga yang berada jauh dari sumber suara tersebut ikut mendengarkan, mencoba untuk tak menghiraukan dan kembali sibuk pada nyanyian-nyanyian dari lidah yang tak tahu akan memberikan kesejukan abadi atau malah menjerumuskan pada jahanam si kerajaan api. Namun, entah kenapa otak tak hendak menolak pertanyaan tersebut, secara perlahan memaksa menelan kata demi kata, " Cinta ? " , " ALLAH ? ", hingga satu kalimat utuh pun dapat dicerna " Cinta kah kita kepada ALLAH ?", mencoba memahami dan menelaah makna dari tanya tersebut " apakah aku cinta kepada ALLAH ?". Batin yang awalnya hanya terpaku membisu, kini mulai bergejolak dengan sendirinya, hati dan otak pun mulai disibukkan oleh tanya tersebut, berdiskusi, berdialog, mencari-cari jawaban yang pantas dan sangat mewakili lubuk hati.
Bibir ini masih saja membisu, menenti jawaban dari hati dan otak yang tak berhenti beradu. Mata pun terasa kaku, tak hendak melirik kanan, kiri, atas, maupun bawah, hanya seketika berkedip seperti akan menyampaikan pesan dari dua organ yang sedang mencari jawaban tersebut " Sepertinya pertanyaan ini tiadalah berbatas" . Semuanya terasa hanya melayang di angan, pada akhirnya pertanyaan tinggallah sebuah pertnyaan, bukanlah jawaban yang menjadi dialog, melainkan tanya-tanya lain yang kian bermunculan :
"Kenapa lidah ini tak mampu dengan tegas menjawabnya ? "
"Kenapa hati ini tak tulus menjawab tanya yang sama ini ? "
"Mungkinkah tanya itu benar, bahwa diri ini tak mencintaiNYA ?"
"Kenapa tak ada jawaban, padahal DIA lebih dekat kepada hati dibanding diri ini sndiri ?"
"Mungkinkah diri ini yang terlalu jauh dariNYA ? "
"Mungkinkah dia atau DIA yang ku cinta ? "
"dia atau DIA yang patut lebih ku cintai ? "
"Aah, terlalu banyak pertanyaan..!!"
***
Semakin jauh diri ini mencari jawaban, semakin banyak pula pertnyaan-pertanyaan yang pada akhirnya sulit berbuah jawaban juga.Sungguh diri ini nyata berotasi dan terlalu jauh dari pusatnya, jauh dari tumpuan yang menciptakan hati ini, jauh dari dzat yang membolak-balikkan hati.
Hanya mampu merenung dengan penuh harap semoga Engkau indahkan diri ini dengan segala tingkah yang sejalan dengan ridhoMU, tingkah di atas semua alur perintahMU, sehingga menjadikan semua itu sebagai jawaban atas semua pertanayaan yang ada.
Hari-hari semakin nampak kelam,
tak ada sepercik sinar pun yang benderang
Sang pengembara semakin jauh dari Maha raja,
pandang tak jelas kabur akan singgasana
Kabut pekat menyelimuti kalbu,
tiupan lisan-lisan keramat tak lagi merdu
Kalimat suci semakin tertup rapat,
terbungkus debu kusam berkarat
Malam-malam terasa semakin mencekam,
gelap pekatnya menghadirkan permasuri jahanam,
menyapa telinga dengan nada lembut,
membelai ubun dengan jari-jari penghasut
Waktu-waktu suci kian terzalimi,
mendustai masa bak zaman jahli
Ku biarkan hembusan angin menjamah jiwa,
menuntun mata menikmati hangatnya dunia
Ku relakan kilauan permata memanjakan mata
mengahalangi pandang akan indah yang haq nyata
Ku buka telinga dari nyanyian-nyanyian sihir dunia
menggantikan suara merdu firman-firman sang Maha Raja
Oh, habibi
Terlampau jauh abdi dariMu
Terlelap dalam khayalan-khayalan semu
Terhasut janji-janji palsu
Oleh dunia yang penuh akan tipu
Oh, habibi
Ingin kembali ku letakkan kepala ini di atas sujud
Menengadahkan tangan kepadaMU wahai sang wujud
Memohonkan ampun akan jiwa kotor nan kusut
Mengambalikan hati ini padaMU pusat segenap makhluq
Oh, habibi
Luruskanlah setiap jalan dimana kaki ini melangkah
Sertakanlah ridhoMu dalam setiap mulut ini bertuah
Indahkanlah jalan hidup ini dengan akhlaqul karimah
Akhirkanlah hembusan nafas ini dengan husnul khotimah
Oh, habibi
Izinkanlah diri ini menikmati cintaMU
Cinta yang hanya mengalir dariMu
Izinkanlah diri ini mencintaiMu
Cinta yang hanya erpusat padaMU
Malang,
Sabtu, 14 Maret 2015
01:57
Tidak ada komentar:
Posting Komentar