Tatkala Tuhan gugah mata ini dari mimpi
Ku ceritakan malam ku pada dunia
pada sang surya yang baru melek menatap pagi
pada segerombolan burung kecil menyapa, menyanyi
Ku titipkan cerita ku pada semilir angin lembut
Mengabadikan kisah pada lembar-lembar daun berembun
Tentang sang purnama yang tak jua padam
Sinar yang menerka menelusup membekas di otak
tak redup,meski gelap tak jua datang
tak sirna,walau mentari kian menerjang
Tatkala Tuhan hadirkan malam ku kembali,
Sejenak ku terdiam termangu mendekap sunyi
Mengharapakan indahnya sang purnama hadir menghibur hati
Menanti akan cahaya benderang memenuhi rongga-rongga kusut sanubari
Namun sentakan dinginnya angin malam menyadarkanku dari lamunan
“Malam ini bukanlah separo dari hitungan bulan. . “
“Akankah malam ini purnama tak kunjung datang . . ? “
“Mungkinkah purnama ku hanya terkurung dalam tempurung angan-angan.
. ? “
Wahai Engkau sang pemilik temaram purnama
Tiadalah diri ini miliki kuasa tuk meraba masa
Akankah Kau pertemukan pandang ini tatkala tiba saatnya
Pada sang purnama yang selalu mata ini damba
Wahai Engkau sang pemilik arah
Tiadalah berdaya diri ini tuk jauh melangkah
Akankah kau tunjukkan jalanMu yang penuh berkah
Menuju sang purnama yang bersinar nan merekah
Ku titipkan sang purnama di bawah percikan cahayaMu
Menyatu dalam ketundukan bersama alur-alur ceritaMu
Mengabadikan kisah-kisah suci penerang setiap bayang semu
Mohammad Syukur
Jum’at, 16 Oktober
2015
Gubuk 505
Tidak ada komentar:
Posting Komentar