4 Juli 2014 pukul 0:14
Terdengar kalimat patah-patah dari bibir yang gemetar bagaikan petir yang menyambar tanpa pamrih dikala hujan.
Suara yang lirih layaknya siualan angin di pagi hari keluar dari hati yang paling dalam.
Kedua kelopak matanya pun tak mampu membendung tetesan air dari dua bola mata yang sayup, seolah sedang berduka karena tak kan terampuni dosa-dosanya.
Setelah salam dalam tolehnya, di atas sujudnya dia teteskan air mata, menundukkan kepala seakan tak kuat menahan malu atas semua yang ada di balik dadanya.
Tubuhnya seperti lilin di atas kobaran api neraka, meleleh tak kuasa memperkasakan dirinya.
Tangan yang akan ditengadahkan untuk meminta kepadaNYA bagaikan pohon besar yang kehilangan akar2nya.
" Tuhan, apakah yang sebenarnya ada di balik dada ini sehingga tak mampu akal mencari ujungnya ?
ampunilah hamba atas ketidakpahaman terhadap segala yang engkau hendaki.
Percikkanlah Nur.MU diatas ubun-ubun ini agar mampu hamba memikirkannya."
Dan air mata pun tetap mengalir....
Bukan sebuah penyesalan yang selalu datang diakhir,
inilah sepercik kekuasaan Tuhan.mu memberikan takdir, namun bukan berarti tak akan ada akhir.
Percayalah hikmah dari semua ini akan terus mengalir,
membasahi sekujur raga dan segenap jiwamu bagaikan kau menyelam dalam air,
selama kau selalu bersyukur, kuat untuk sabar, mampu untuk ikhlas atas semuanya,
maka kumandagkanlah dalam tiap dentuman jantungmu, hembusan nafasmu untuk bertasbih, tahmid dan takbir.
Ingatlah :
(QS.AL-BAQARAH:286)=>(QS.AL-BAQARAH:153)=>(QS.ALAM NASYRAH:5-6)
It's just a piece of memories
Tidak ada komentar:
Posting Komentar